Proses akreditasi sekolah sering kali dipandang sebagai deretan prosedur administratif yang kaku. Namun, suasana berbeda mewarnai pelaksanaan Akreditasi di SLB G-AB Helen Keller Indonesia pada Senin hingga Selasa, 7–8 September 2026. Sekolah yang membina anak-anak dengan hambatan ganda (tunarungu/netra) ini, akreditasi hadir sebagai panggung pembuktian karya, kemandirian, dan kisah perjalanan tanpa batas.
Senin. 7 September 2026, SLB G-AB Helen Keller Indonesia kedatangan tamu penting, yaitu Tim Asesor Akreditasi yang terdiri oleh Ibu Murwati Widiani, M.Hum. dan Ibu Zamzami Ulwiyati Darojad, S.Ag., M.Pd., didampingi oleh Pengawas SLB Dinas DIKPORA Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Bapak Dr. Wiji Suparno, S.Pd., M.Phil. SNE, disambut lewat harmoni nada instrumen angklung yang dimainkan dengan penuh dedikasi oleh para siswa di bawah bimbingan Bapak Laurentius Adhiwena Yudhita Putra yang akrab disapa Pak Wena. Suasana kian haru dan bangga saat suara emas Abeth Hardiansyah Nababan, siswa berprestasi yang menyabet Juara 1 FLS2N Kota Yogyakarta dan Juara 3 FLS2N Provinsi DIY, bergema membuka rangkaian agenda hari pertama dengan dua lagu andalan.
Poin krusial dalam penilaian mutu pendidikan di SLB G-AB Helen Keller Indonesia terletak pada sejauh mana lulusannya mampu berdaya di masyarakat. Melalui sesi Display Alumni, SLB G-AB Helen Keller Indonesia menunjukkan hasil nyata pendampingan holistik mereka. Dwiki Handaka Kencana Mahesawara, seorang alumni buta-tuli (deaf blind), secara terampil mempraktikkan keahliannya meracik Kopi V60 bersama Bapak Valentinus Yoga Wirantoro, S.Pd. dan tim dari Kopi Egalita, tempat Handaka menyelesaikan program magang baristanya. Tak kalah menginspirasi, Firska Wijaya, alumni lainnya, turut membagikan pengalamannya yang kini telah berdikari dan bekerja sebagai baker profesional di PROTECDA Wonosobo.
“Pendidikan di sini bukan sekadar memberikan materi di dalam kelas, melainkan membekali mereka dengan keterampilan hidup (life skills) agar mampu berdiri di atas kaki sendiri,” tegas Kepala Sekolah, Ibu F. Krimsartanti, S.Pd., dalam pemaparannya di hadapan jajaran Asesor, Yayasan Dena Upakara, Komite Sekolah, dan para guru.
Memasuki hari kedua, Selasa, 8 September 2026, fokus penilaian bergeser ke ranah praktis. Tim asesor meninjau langsung interaksi kelas yang sarat akan kesabaran dan ketelatenan. Tim Asesor berkesempatan hadir dan melihat proses pembelajaran di dua kelas dengan jengang yang berbeda. Proses pembelajaran di kelas Ibu Angela Oktaviani Muji Rahayu, S.Pd., para murid diajak mempraktikkan proses pembuatan tempe mendoan. Sementara itu, di kelas Ibu Ratnaningtyas Herni Widyandaru, S.Psi., siswa belajar secara mandiri membuat dan menyajikan teh manis. Proses ini memperlihatkan bagaimana konsep pembelajaran adaptif diterjemahkan ke dalam aktivitas harian yang membangun rasa percaya diri peserta didik.
Peninjauan sarana dan prasarana sekolah serta telaah berkas dokumen menjadi penutup dari rangkaian kegiatan akreditasi ini. Lebih dari sekadar pemenuhan standar nasional, rangkaian kegiatan dua hari ini menjadi momen refleksi bersama untuk terus merawat asa dan memberikan layanan pendidikan inklusif yang bermutu bagi setiap anak berkebutuhan khusus.
(Valentinus Yoga Wirantoro, S.Pd.)