Info Sekolah
Jumat, 06 Nov 2026
  • SLB G-AB Helen Keller Indonesia Yogyakarta berdiri sejak tanggal 25 Juni 1996, didirikan oleh para Suster Putri Maria dan Yosef (PMY) yang berpusat di Wonosobo.

Sejarah

Profil

SLB G-AB Helen Keller Indonesia Yogyakarta berdiri sejak tanggal 25 Juni 1996, didirikan oleh para Suster Putri Maria dan Yosef (PMY) yang berpusat di Wonosobo yang merupakan pengembangan dari SLB B Dena Upakara Wonosobo. SLB G-AB Helen Keller Indonesia adalah sekolah berasrama yang melayani anak berkebutuhan khusus ganda tunarungu – netra

Sejarah

Pada tahun 1938, berdirilah SLB/B Dena-Upakara yang beralamat di Jl. Mangli No. 5 Wonosobo, Jawa Tengah. SLB/B Dena-Upakara adalah sekolah yang menangani pendidikan untuk mereka yang menyandang tunarungu.

Pada usianya yang ke-58 pada tahun 1996, SLB/B Dena-Upakara mengembangkan pendidikan untuk mereka yang menyandang tunarungu dan tunanetra (deafblind). Diambillah nama “Helen Keller”. Nama Helen Keller diambil dari nama yayasan yang mensponsori berdirinya SLB/G-AB Helen Keller Indonesia yaitu Helen Keller Stichting yang bertempat di Ulvenhout, Belanda.

Pengembangan ini didorong beberapa faktor, antara lain:

  1. Pada tahun 1993, datang dua orang pemuda yang deafblind. Seorang dari Tegal yang menyandang tunarungu dan menjadi buta pada usia 11 tahun, seorang lagi dari Semarang yang berusia 25 tahun, seorang sarjana Fisika.
  2. Pada tahun ajaran 1994/1995 jumlah murid kelas persiapan/TK di SLB/B Dena-Upakara hampir separuhnya menyandang tunarungu sekaligus berkasus penglihatan.
  3. Ada beberapa alumni dari Dena-Upakara yang menjadi buta di usia dewasa sehingga mereka sulit berkomunikasi dengan lingkungannya.

Atas dasar pertimbangan tersebut, kami mulai mendirikan sekolah dan asrama untuk mereka yang menderita tunarungu-netra (buta-tuli).

Sesuai dengan saran Mr. Kirk Horton, konsultan dari Asia Pacifics Representative of Hilton Perkins International Program, dimulailah pendidikan untuk mereka yang menyandang tunarungu-netra dengan 1 orang murid yaitu Brigita Natalia Yuwono (7 tahun). Ia mengalami tunarungu dan gangguan penglihatan karena satu matanya tidak berfungsi dan satu matanya lagi hanya berfungsi 50%.

Pada tanggal 25 Juni 1996, dimulailah pendidikan dan rehabilitasi untuk mereka yang deafblind dengan menempati di Jl. Bismo Utara No. 21 Wonosobo, Jawa Tengah. Dengan berbagai pertimbangan kami memindahkan tempat pendidikan yang semula berada di Wonosobo pindah ke Yogyakarta. Pertimbangan kami antara lain:

  1. Di Yogyakarta dekat dengan universitas-universitas sebagai tempat berkonsultasi dan meneliti anak-anak tunarungu-netra.
  2. Di Yogyakarta dengan dengan rumah sakit besar dimana kami dapat berkonsultasi dan mempermudah pelayanan kesehatan.
  3. Di Yogyakarta banyak SLB yang dapat diajak kerjasama.
  4. Di Yogyakarta dekat dengan FKTNI (Forum Komunikasi Tuna Netra Indonesia dan Low Vision Centre).

Oleh karena itu, kami menyewa rumah di Jl. Garuda Gg. Teratai No. 3 Murangan, Sleman sebagai tempat untuk pendidikan bagi anak-anak tunarungu-netra.

Mengingat perkembangan pendidikan dan jumlah anak yang harus ditangani terus bertambah maka kami menempati rumah kontrakan baru yang lebih representatif. Mulai tanggal 25 Juni 2000 kami menempati rumah kontrakan baru di Jl. Magelang KM. 12, Wadas, Tridadi, Sleman. Pada tanggal 14 Agustus 2001, kami membeli sebuah rumah di Jl. RE. Martadinata No. 88A Wirobrajan Yogyakarta sebagai tempat untuk sekolah dan asrama.

Alamat

SLB G-AB Helen Keller Indonesia Yogyakarta
Jl. RE. Martadinata 88A, Wirobrajan, Kota Yogyakarta, 55253

SLB G-AB Helen Keller Indonesia Sedayu
Sedayu RT 54, Argosari, Sedayu, Bantul