Info Sekolah
Jumat, 06 Nov 2026
  • SLB G-AB Helen Keller Indonesia Yogyakarta berdiri sejak tanggal 25 Juni 1996, didirikan oleh para Suster Putri Maria dan Yosef (PMY) yang berpusat di Wonosobo.
16 September 2026

Merayakan Kemerdekaan RI  ke- 81 dengan Sukacita: Ketika Kebersamaan Menjadi Kemenangan

Rabu, 16 September 2026 Kategori : Uncategorized

Kemerdekaan bukan hanya tentang mengenang perjuangan para pahlawan. Kemerdekaan juga tentang kesempatan untuk bergembira, berkarya, saling mendukung dan hadir sebagai satu keluarga dalam keberagaman.  Semangat itulah yang terasa begitu kuat dalam perayaan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia di SLB G-AB Helen Keller Indonesia  Sedayu, 15 Agustus 2026.

Pagi itu, aula sekolah dipenuhi dengan wajah-wajah ceria.  Para suster, Peserta didik, guru, pendamping asrama dan beberapa karyawan dari SLB G-AB Helen Keller Indonesia Sedayu dan Wirobrajan berkumpul dalam suasana yang penuh keakraban. Tidak ada jarak. Semua hadir sebagai bagian dari satu keluarga besar yang ingin merayakan kemerdekaan dengan cara yang sederhana, tetapi penuh makna.

Kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan bahasa isyarat SIBI dilanjutkan dengan senam Maumere yang dipimpin oleh Bu Nugraheni. Video Musik dari layar LCD yang ceria segera menghidupkan suasana. Tangan bergerak, kaki melangkah, tubuh mengikuti irama. Ada yang bergerak dengan penuh semangat, ada yang mengikuti dengan caranya sendiri, dan ada pula yang menikmati suasana sambil tersenyum. Namun justru disitulah keindahannya. Tidak harus sempurna untuk dapat bergembira. Tidak harus sama untuk dapat bergerak bersama. Setiap orang memiliki cara masing-masing untuk berpartisipasi, dan semuanya tetap menjadi bagian dari keceriaan pagi ini.

Setelah senam, keseruan, berlanjut dengan berbagai perlombaan. Peserta didik mengikuti lomba menggigit sendok dengan kelereng. Mereka  berusaha membawa  kelereng hingga garis tujuan tanpa menjatuhkannya. Dibutuhkan konsentrasi, kesabaran, dan keseimbangan. Ketika kelereng terjatuh, bukan hanya rasa kecewa yang muncul, tetapi juga tawa dan semangat untuk mencoba kembali.

Ada pula lomba berpasangan memancing dengan umpan kerupuk. Kerja sama menjadi kunci. Peserta harus saling memperhatikan, saling menunggu dan saling membantu agar dapat menyelesaikan tantangan.

Yang tidak kalah seru adalah lomba peserta didik bersama pendamping, ketika pendamping harus menutup mata dengan hasduk dan menyuapi peserta didik dengan kerupuk. Ada beberapa anak yang lahap menyantap kerupuk seperti  Okta, Arun dan Nafidz. Ada juga yang begitu santai saat mengunyah kerupuk dan dibutuhkan dorongan semangat dari para supporter agar bisa mengunyah dengan cepat dan mendapat juara. Begitu seru dan penuh semangat.  Lomba sederhana ini menghadirkan begitu banyak tawa. Semua  keseruan itu menjadi bagian dari pengalaman yang menyenangkan. Di balik tawa tersebut, ada sebuah pelajaran yang sangat berharga yaitu percaya kepada orang lain, berkomunikasi dan bekerja sama.

Kemeriahan ternyata bukan hanya milik peserta didik. Para pendamping juga menunjukkan semangatnya  melalui berbagai perlombaan khusus pendamping. Salah satunya adalah lomba memakai sarung sambil mengarahkan balon ke udara. Melihat para pendamping berusaha mempertahankan balon agar tidak jatuh tentu mengundang gelak tawa. Gerakan yang terkadang  tidak terduga membuat suasana semakin meriah.

Lomba berpasangan seperti memancing makan kerupuk juga menghadirkan keseruan tersendiri. Sr Yosefa yang berpasanagan dengan Pak Rame terlihat sangat menggelikan. Sr Yosefa sengaja mempermainkan arah pancingan kerupuk ke samping sisi dan kanan tempat duduk Pak Rame sehingga Pak Rame kesulitan menangkap kerupuk tersebut dengan mulutnya. Hal ini menimbulkan gelak tawa dari para supporter termasuk juga Sr Yosefa sendiri.

Demikian pula lomba berantai menaruh potongan kardus. Tata caranya adalah setiap tim terdiri sekitar 8 orang dengan 7 lembar potongan dus yang nantinya dipakai untuk pijakan kaki masing-masing anggota tim. Dalam perlombaan ada sekitar 5 tim. Mereka saling berlomba untuk memenangkan pertandingan. Hal ini  membutuhkan kekompakan dan koordinasi seluruh anggota tim. Semua berlomba dengan semangat. Tetapi semakin lama, semakin terasa bahwa bukan kemenangan yang menjadi tujuan utama. Yang jauh lebih penting adalah kebersamaan yang tercipta.

Sekitar pukul 09.30 Wib, setelah mengikuti berbagai perlombaan, peserta didik dan pendamping beristirahat sejenak sambil menikmati  snack dan minum.  Di sela-sela istirahat, suasana akrab tetap terasa.  Ada yang berbincang, ada yang bercanda, dan ada juga yang sekedar menikmati waktu bersama. Kemudian perlombaan kembali dilanjutkan.  Kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa kebersamaan mampu menghadirkan energi yang luar biasa. Ketika seseorang merasa didukung dan diterima, ia akan lebih berani untuk mencoba.

Bagi keluarga besar SLB G-AB Helen Keller Indonsia, perayaan seperti ini bukan sekedar agenda tahunan. Di balik setiap perlombaan terdapat kesempatan untuk memberikan  ruang kepada peserta didik agar berani tampil, berani mencoba, menikmati proses, dan merasakan bahwa dirinya mampu mengambil bagian. Ada yang mungkin berhasil menjadi pemenang. Ada yang belum berhasil mencapai garis akhir. Ada yang mampu mengikuti seluruh rangkaian lomba, dan ada pula yang belum berhasil mencapai garis akhir. Ada yang mampu mengikuti seluruh rangkaian lomba, dan ada pula yang berpartisipasi dengan caranya sendiri.  Semuanya tetap berharga. Karena setiap usaha layak mendapatkan apresiasi. Setiap  senyum adalah kemenangan. Setiap keberanian untuk mencoba adalah sebuah prestasi. Dan setiap tangan yang saling membantu adalah wujud nyata semangat persaudaraan

Sekitar pukul 12.00 Wib, seluruh rangkaian perlombaan akhirnya selesai.  Setelah lelah bermain dan bergembira sejak pagi, tibalah saat yang paling  dinantikan yaitu makan bakso bersama. Semangkuk bakso menjadi penutup yang sederhana, tetapi terasa istimewa karena dinikmati bersama-sama. Di sana, tidak ada lagi soal siapa yang menang dan siapa yang kalah. Tidak ada lagi persaingan. Yang ada hanyalah kebersamaan, percakapan, tawa, dan rasa syukur karena telah melewati pagi yang penuh kegembiraan.

Perayaan HUT Kemerdekaan RI  yang ke-81 di SLB G-AB Helen Keller Indonesia tahun ini mengajarkan sebuah hal  sederhana namun mendalam. Kemerdekaan menjadi semakin bermakna ketika dirayakan dan dirasakan oleh semua.  Kemerdekaan memberi kita ruang untuk menjadi diri sendiri, untuk berkembang sesuai kemampuan, untuk saling menerima, dan untuk berjalan bersama tanpa meninggalkan siapa pun.

Hari itu, aula sekolah bukan hanya menjadi tempat perlombaan. Ia menjadi ruang dimana anak-anak belajar tentang keberanian. Tempat para suster dan para pendamping menunjukkan ketulusan. Tempat para guru dan karyawan  berbagi kegembiraan. Dan tempat seluruh  keluarga besar SLB G-AB Helen Keller Indonesia merasakan bahwa kita mungkin berbeda dalam banyak hal, tetapi kita tetap dapat tertawa, bermain, dan bersukacita bersama.

Pada akhirnya, mungkin bukan siapa yang paling cepat, paling kuat, atau paling banyak memenangkan lomba  yang akan paling lama dikenang.

Yang akan tinggal dalam ingatan adalah senyum anak-anak, tawa para suster dan para  pendamping asrama, semangat para guru, semangat para karyawan  dan kehangatan sebuah keluarga yang merayakan kemerdekaan bersama.

Dirgahayu Republik Indonesia! Merdeka ! Merdeka ! Merdeka!

(Christina Sutanti, S.Pd.)

Alamat

SLB G-AB Helen Keller Indonesia Yogyakarta
Jl. RE. Martadinata 88A, Wirobrajan, Kota Yogyakarta, 55253

SLB G-AB Helen Keller Indonesia Sedayu
Sedayu RT 54, Argosari, Sedayu, Bantul