“In Omnibus Caritas” – Kasih dalam segala hal, menjadi dasar setiap pelayanan.
Pelayanan kepada anak-anak berkebutuhan khusus bukan sekadar sebuah profesi. Di dalamnya terdapat panggilan, pengabdian, perjuangan, dan kasih yang terus bertumbuh dari waktu ke waktu. Kesadaran inilah yang menjadi benang merah dalam kegiatan rekoleksi bertajuk KEMBARA KASIH yang diselenggarakan oleh Yayasan Dena Upakara pada tanggal 26–28 Juni 2026 di Wisma Salam.
Selama tiga hari, seluruh karyawan dari SLB-B/LKSD Dena Upakara Wonosobo dan SLBG-AB/LKSD Helen Keller Indonesia mengikuti rangkaian kegiatan yang dirancang untuk memperdalam makna pelayanan melalui tema In Omnibus Caritas. Rekoleksi dipandu oleh Patrick Yesandro bersama tim dari Soegijapranata Catholic University Semarang, yang mengajak peserta tidak hanya melakukan refleksi pribadi, tetapi juga menelusuri sejarah berdirinya karya pelayanan, merumuskan identitas lembaga, serta memperkuat komitmen untuk melayani dengan kasih yang akhirnya bias ikut ambil bagian dalam sejarah.
Hari Pertama: Menyapa Kembali Panggilan Hati
Perjalanan rekoleksi diawali dengan ace breaking oleh Mas Angga dari Tim. selanjutnya peserta dibawa dalam suasana hening dan reflektif, untuk mengenang sejarah lahirnya Konggregasi Puteri Maria dan Yosef, serta merefleksikan kembali perjalanan hidup serta panggilan mereka sebagai guru, pendamping, dan tenaga pelayanan bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Dengan menjawab beberapa pertanyaan secara individu.
Melalui refleksi pribadi, peserta diajak menjawab beberapa pertanyaan mendasar:
Refleksi ini menjadi ruang untuk mengenali kembali alasan terdalam dalam memilih jalan pelayanan. Berbagai pengalaman dibagikan, mulai dari kisah perjuangan mendampingi peserta didik dengan kebutuhan yang beragam, pengorbanan waktu bersama keluarga, hingga kebahagiaan melihat setiap perkembangan kecil yang dicapai oleh anak-anak didik.
Melalui proses ini, setiap peserta diajak menyadari bahwa pelayanan bukanlah sekadar rutinitas pekerjaan, melainkan panggilan yang harus terus dipelihara dengan hati yang penuh kasih.
Pada sesi berikutnya, peserta mulai melakukan bedah sejarah melalui arsip mengenai perjalanan PMY), Yayasan Dena Upakara, dan Helen Keller Indonesia. Arsip tersebut menjadi jendela untuk melihat bagaimana semangat pelayanan yang diwariskan para pendahulu telah berkembang hingga menjadi karya pendidikan dan pelayanan yang terus hidup sampai sekarang.
Melalui penelusuran sejarah tersebut, peserta semakin memahami akar berdirinya lembaga sekaligus nilai-nilai yang menjadi fondasi dalam setiap karya pelayanan.
Hari Kedua: Menelusuri Jejak Sejarah Muntilan dan Merumuskan Identitas
Hari kedua diisi dengan kegiatan eksplorasi sejarah di Kota Muntilan. Perjalanan ini menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung berbagai tempat yang memiliki nilai historis dan berkaitan dengan perkembangan karya sosial, pendidikan, serta kehidupan masyarakat.
Beberapa lokasi yang dikunjungi meliputi:
Setiap lokasi menyimpan cerita yang berbeda. Ada kisah mengenai semangat pelayanan para religius, keberagaman budaya yang hidup berdampingan, tumbuhnya usaha keluarga yang bertahan lintas generasi, hingga perkembangan kehidupan masyarakat Muntilan sebagai kota yang kaya akan sejarah.
Perjalanan ini mengajak peserta memahami bahwa karya pelayanan yang bertahan lama selalu dibangun di atas nilai pengabdian, ketekunan, dan semangat untuk melayani sesama. Pada sore harinya, setiap kelompok mempresentasikan hasil bedah sejarah dari tempat tempat yang telah dikunjungi yaitu Susteran OSF, Klenteng Muntilan, Toko Kue Nyonyah Pang, Museum Misi, Toko Tape Ketan, Toko Moro Seneng dan PO Bus Ramayana yang telah dipelajari melalui arsip maupun hasil eksplorasi lapangan.
Diskusi berkembang menjadi proses bersama untuk merumuskan identitas insan Dena Upakara dan Helen Keller Indonesia di era saat ini. Peserta diajak menjawab pertanyaan penting: “Siapakah kita sebagai pelayan di masa kini?”
Dari berbagai pemikiran yang muncul, peserta menyepakati bahwa insan Dena Upakara dan Helen Keller Indonesia adalah pribadi-pribadi yang bekerja dengan hati, menghargai martabat setiap individu, menjunjung nilai inklusivitas, serta terus bertumbuh dalam semangat pelayanan yang dilandasi kasih.
Hari Ketiga: Menjadikan Nilai sebagai Arah Pelayanan
Hari terakhir menjadi momentum untuk menerjemahkan seluruh proses refleksi menjadi langkah nyata melalui pendalaman tujuh nilai utama yang menjadi dasar pelayanan di Yayasan Dena Upakara dan Helen Keller Indonesia.
Ketujuh nilai tersebut adalah:
Setiap nilai dibahas secara mendalam melalui diskusi kelompok, berbagi pengalaman, dan penyusunan rencana tindak lanjut. Peserta bersama-sama merumuskan bagaimana ketujuh nilai tersebut dapat dihidupi dalam budaya kerja sehari-hari.
Berbagai gagasan muncul sebagai bentuk implementasi nyata, antara lain memperkuat kolaborasi antarunit, meningkatkan kualitas pelayanan kepada peserta didik dan keluarga, membangun komunikasi yang lebih terbuka, mengembangkan budaya belajar bersama, serta menjaga semangat melayani dengan hati yang tulus.
Rekoleksi kemudian ditutup dengan komitmen bersama bahwa tujuh nilai tersebut bukan sekadar slogan organisasi, tetapi menjadi pedoman dalam setiap langkah pelayanan di Dena Upakara maupun Helen Keller Indonesia.
Menjadi Pelayan yang Menghidupi Kasih
Rekoleksi KEMBARA KASIH bukan sekadar kegiatan penyegaran rohani, tetapi sebuah perjalanan untuk mengenal kembali akar sejarah, menemukan identitas bersama, dan memperbarui komitmen pelayanan.
Melalui tema In Omnibus Caritas, seluruh peserta diajak menyadari bahwa kasih bukan hanya diwujudkan melalui tindakan besar, tetapi hadir dalam setiap sapaan, pendampingan, keputusan, kerja sama, dan perhatian kepada sesama.
Berbekal pemahaman akan sejarah, identitas, serta tujuh nilai pelayanan, seluruh insan Yayasan Dena Upakara diharapkan semakin siap melanjutkan karya para pendahulu dengan semangat yang baru. Sebab pelayanan yang berakar pada kasih akan selalu menghadirkan harapan, membuka ruang bagi setiap individu untuk bertumbuh, dan menjadi terang bagi anak-anak berkebutuhan khusus beserta keluarga yang mereka layani.
Semoga semangat KEMBARA KASIH terus hidup dalam setiap karya, sehingga In Omnibus Caritas benar-benar menjadi jiwa pelayanan Yayasan Dena Upakara dan Helen Keller Indonesia—kasih yang hadir dalam segala hal, bagi semua orang.
(F. Peni Laras, S.Pd.)