Pagi pukul 05.00 WIB, kami bersama-sama berkumpul di SLB G – AB Helen Keller Indonesia. Segala perlengkapan sudah kami siapkan sebaik mungkin. Bahkan matahari pun belum memunculkan sinarnya ketika rombongan guru, karyawan dan pendamping asrama Helen Keller Indonesia berangkat menggunakan 4 mobil menuju kota yang terkenal dengan mie onglok yang khas dan lezat itu, kota Wonosobo. Kamis, 4 Januari 2023, kami para guru, karyawan, dan pendamping asrama Helen Keller Indonesia memiliki agenda untuk pendalaman spiritualitas (rekoleksi) bersama dengan seluruh karyawan Yayasan Dena Upakara yang bertempat di SLB B Dena Upakara Wonosobo. Tentunya kegiatan ini mengundang antusias dan rasa bahagia karena akhirnya dapat berkumpul setelah sekian lama tidak berkegiatan bersama akibat pandemi covid 19.
Kami sampai di Wonosobo sekitar pukul 08.30 WIB kemudian dipersilakan untuk menyantap kue dan teh yang telah disiapkan di ruang makan SLB B Dena Upakara Wonosobo. Kue dan teh yang baru saja disantap rupanya membuat kami semakin siap untuk mengikuti acara rekoleksi yang dipimpin oleh Suster PMY.
Acara dimulai tepat pada pukul 09.00 WIB. Kami berada pada salah satu ruangan yang ada di ujung bangunan sekolah. Tidak kecil dan tidak begitu besar. Ukuran yang cukup untuk kami berkegiatan bersama selama satu hari ini. Ruangan tampak rapi dengan deretan kursi berjajar simetris. Suster Crescentiana PMY membuka rekoleksi dengan wajah sumringah dan semangat. Kami diperkenalkan dengan pengisi acara rekoleksi yaitu Sr. Emilia PMY yang memiliki suara nan lembut. Kemudian kami dijelaskan susunan acara yang akan kami ikuti sepanjang hari ini. Acara dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama pukul 09.00 – 11.00 WIB. Setelah itu dilanjutkan dengan sesi kedua pukul 11.30 – 13.00 WIB. Kemudian dilanjutkan pertemuan dengan Sr. Crescentiana PMY pada pukul 14.00 WIB.
Kami dibagi menjadi 10 kelompok. Suster Crescentiana PMY menyebutkan satu per satu anggota mulai dari kelompok 1 sampai 10. Pada pembagian kelompok ini menjadi ajang kami mengenal satu sama lain. Kami mengenal teman-teman dari Wonosobo dan sebaliknya.
Pada sesi pertama, kami dibawa pada bahasan Santo Vinsensius De Paulo dalam pendidikan dan juga kisah hidupnya mulai dari kecil. Kami diingatkan tentang spiritualitas yang memiliki arti api, semangat, napas, dan jiwa yang menggerakkan cara seseorang menghayati hidupnya. Diajak untuk menemukan kembali atau setidaknya memercikan api dalam diri yang mungkin redup atau bahkan mati dalam melayani, khususnya pelayanan terhadap anak-anak berkebutuhan khusus tunaganda tunarungu-netra di SLB G – AB Helen Keller Indonesia. Satu yang menarik adalah tentang cara kita mencintai Allah dan sesama didorong oleh api (semangat) yang dapat diteladani dari Santo Vinsensius. Santo Vinsensius menjadi spirit dalam pelayanan kami sebagai guru di Yayasan Dena Upakara yang dikelola oleh Suster-suster PMY.
Setelah mendapatkan penyegaran tentang Santo Vinsensius, kami berkumpul dalam kelompok untuk menjawab pertanyaan tentang pengalaman yang meyakinkan kami menjadi pendidik, siapa saja yang berjasa dalam pendidikan kami dan apa yang menjadi spirit untuk mendidik, mencintai dan merawat anak-anak. Kami berbagi pengalaman bersama secara bergantian. Cerita yang telah kami bagikan ini disampaikan per kelompok sesuai dengan urutannya. Sesi pertama ini berlangsung menyenangkan dan seru. Bagi kelompok yang mendapat undian angka 0 diberi kesempatan untuk menari atau menyanyi. Gerrr! Ada beberapa kelompok yang mendapat undian angka 0. Gelak tawa memenuhi ruangan mengalahkan keringat yang merembes di dahi.
Pada sesi kedua, kami dikenalkan dengan keutamaan Santo Vinsensius. Ada 5 keutamaan Santo Vinsensius yakni simplisitas (kesederhanaan), humilitas (kerendahan hati), mansuetudo (kelembutan hati), mortificatio (matiraga) dan penyelamatan jiwa-jiwa. Dari 5 keutamaan ini, manakah yang paling sulit dilakukan dalam praktik sebagai pendidik? Dan kami menilik diri untuk menemukan upaya konkret dalam mempraktikkan spiritualitas Santo Vinsensius dalam dunia pendidikan. Kami diminta untuk merenungkan pertanyaan tersebut yang jawabannya ada dalam pikiran dan hati masing-masing. Semoga nantinya upaya konkret ini lantas tidak berhenti pada kata-kata. Segera dapat terwujud dan memberi buah-buah manfaat bagi anak-anak kami di SLB G – AB Helen Keller Indonesia. (Grace Chintia Novita, S. Pd.)
Tinggalkan Komentar