Santiaji menurut KBBI adalah pemberian petunjuk atau pengarahan mengenai strategi kerja (terkadang disertai peragaan atau pelatihan). Menurut laman santiaji.com (8 Juli 2022) kata Santiaji berasal dari bahasa Sanskerta (Jawa) Santi dan Aji. Dalam bahasa Sanskerta, arti nama Santi (शान्ति) adalah kedamaian, ketenangan, ketenteraman, kebahagiaan. Kata tersebut berhubungan dengan kedamaian batin. Yaitu sebuah kondisi ketika seseorang merasakan kedamaian secara mental dan spiritual. Orang dengan kedamaian batin biasanya memiliki pemahaman dan pengetahuan yang cukup sehingga kuat menghadapi perselisihan atau tekanan dalam hidupnya. Sedangkan arti nama Aji adalah berharga sekali dan dianggap bertuah (tentang benda keramat); tidak ternilai kehormatan dan kedudukannya sehingga orang merasa wajib mengagungkan dan menghormati; Kesaktian/Ilmu Sakti. Jadi boleh disimpulkan bahwa Santiaji Yayasan Dena Upakara adalah sebuah kegiatan dalam rangka memberikan pengarahan dan pembekalan bagi karyawan baru yang berguna bagi tugas pelayanannya di Yayasan Dena Upakara.
Yayasan Dena Upakara mengadakan kegiatan Santiaji pada Hari Rabu dan Kamis, 22 – 23 Juni 2023 mulai pukul 08.00 – selesai di SLB B Dena Upakara Wonosobo. Diikuti oleh karyawan Yayasan Dena Upakara meliputi Guru, Pendamping Asrama, dan karyawan baru sejumlah 11 orang. Kegiatan ini diikuti pula oleh Yayasan Dena Upakaran Cabang Yogyakarta meliputi Guru, Pendamping Asrama, dan karyawan baru pula sejumlah 9 orang. Adapun karyawan baru yang mengikuti kegiatan ini beragam tahun masuk dan mulai bekerjanya. Ada yang sudah 4 tahun bekerja, ada yang 1 tahun, bahkan ada yang baru saja wawancara dan diterima bekerja.
Kagiatan Santiaji di hari pertama dibuka oleh Suster Crescentiana, PMY dilanjutkan dengan sesi 1 yaitu Budaya Tuli mendatangkan kawan Tuli Mas Rosendy yang kebetulan bekerja di Mute Cafe yang dimiliki Protecda, bentukan Yayasan Dena Upakara pula. Sesi 2 yaitu kepegawaian oleh Suster Theresia, PMY. Hari pertama ditutup oleh Suster Crescentiana, PMY pada pukul 15.00 diteruskan istirahat.
Di hari kedua sesi dimulai review oleh Suster Crescentiana, PMY dilanjutkan sesi Perkembangan Kognitif Tunarungu oleh Suster Ester, PMY. Sesi terakhir adalah refleksi Santiaji yang didahului menonton film Marie’s Story yang menceritakan kisah pembelajaran anak buta tuli. Setelah melihat film peserta diberi kesempatan merefleksikan film dan yang didapat di Santiaji dan mengambil komitmen dan niat yang akan dilakukan sebagai follow up. Kegiatan berakhir pada pukul 16.30. Banyak kesan yang didapat dalam kegiatan Santiaji kali ini. Selain mengenal teman-teman baru di Yayasan Dena Upakara, suasana yang hangat dalam kebersamaan di indahnya pemandangan dan dinginnya Kota Wonosobo, kami belajar tentang nilai-nilai, semangat dan spiritualitas yang diajarkan dalam mendidik Anak Berkebutuhan Khusus. Bagaimana kami harus mendidik dengan hati, menjadikan diri semakin peka akan semua bahasa dan emosi, mengupayakan yang terbaik dalam pengabdian dan pemberian diri dengan penuh kegembiraan dalam kebersamaan yang membahagiakan. (Beni Cahyadi Maryanto, S. Sos.)
Tinggalkan Komentar